Dasar - Dasar Kepercayaan

Dasar - Dasar Kepercayaan

Dalam kehidupan kita sehari - hari, kita sering dihadapkan dengan berbagai permasalahn yang menyangkut tentang ritual dan tata cara untuk mencapai sesuatu. Terkadang juga bahkan kita sering menjalankan sebuah ritual dengan tanpa mengetahui bagaimana atau apa yang sedang kita lakukan. Bahkan tujuan dari kita melakukannyapun tidak lebih hanya sebatas tujuan sederhana yang tanpa makna. Contoh : ketika kita melakukan sebuah ritual agama seperti sholat dan puasanya, biasanya kita hanya tahu bahwa puasa itu diwajibkan kepada kita sebagai bukti pengabdian dan ketundukan kita pada tuhan. Karena puasa dan diwajibkan, maka sebagaimana sebuah tugas yang diperintahkan oleh atasan ke kita, maka kita juga harus mendapatkan imbalan atas apa yang kita lakukan dari siapa yang memerintahkannya. Oleh karena itulah, saat kita melakukan sholat dan puasa tersebut, maka surgalah yang kita minta sebagai imbalan dari tuhan atas perintah yang dia keluarkan ke kita tersebut. Meminta imbalan surga atas ibadah yang kita lakukan sholat memang tidak salah. Karena memang didalam dalil - dalil yang menceritakan tentang perbuatan baik dijelaskan bahwa surga secara khusus disediakan untuk orang yang  mau beribadah dan berbuat baik. Namun yang menjadi permasalahannya adalah, apakah sebatas surgakah imbalan yang kita minta atas ibadah yang kita lakukan ataukah mungkin apa benarkah tidakan yang kita lakukan ini? 
Untuk membahas masalah ini. kita harus mulai mendekati dengan cara yang sistematis yaitu dengan memulainya bertanya tentang kebenaran atas persepsi yang beranggapan bahwa "tuhan memerintahkan kita untuk melakukan sholat dan puasa sebagaimana perintah seorang atasan ke bawahannya yang tidak boleh dilanggar". Persepsi yang menganggap bahwa tuhan adalah atasan kita memang tidak salah. Tetapi jika kita koreksi lebih lanjut, ternyata ada sedikit pedangkalan yang terjadi saat kita beranggapan seperti ini. Pasalnya ketika kita beranggapan bahwa tuhan adalah seorang atasan yang perintahnya tidak boleh dilanggar, maka kita secara tidak langsung akan beranggapan bahwa tuhan memerintahkan kita untuk menyembahnya karena tuhan membutuhkan kita. Oleh karena itulah kita pasti mendapatkan imbalan darinya atas ketundukan yang kita berikan kepadanya lewat sholat dan puasa yang kita lakukan. Memang secara lisan kita selalu menolak pernyataan bahwa kita menganggap tuhan membutuhkan sholat dan puasa kita. Namun dalam tindakan dan apa yang ada jauh di dalam hati kita, kita selalu berharap dan bahkan terkadang beranggapan bahwa tuhan pasti memberikan surganya kepada kita atas apa yang kita lakukan tersebut.
Anggapan bahwa tuhan akan memberikan apa yang kita lakukan inilah yang sebenarnya mengkerdilkan posisi tuhan sebagai Tuhan kita yang maha segala-galanya dan juga merendahkan posisi ibadah. Pasalnya telah kita ketahui bahwa Tuhan yang kita sembah itu adalah zat yang tidak terbatas dan mampu berdiri sendiri. Sehingga dia tidak sedikitpu membutuhkan apa yang kita lakukan untuknya (berdiri sendiri / qiyamu binafsi). Oleh karena itulah kurang begitu tepat jika kita beranggapan bahwa tuhan membutuhkan ibadah kita sehingga ketika kita beribadah maka kita akan mendapatkan surga sebagai balasannya. Selain itu, Surga Tuhan sendiri tidaklah diberikan pada orang yang tidak ikhlas. Sedangkan ikhlas itu sendiri berarti tanpa pamrih. Oleh karena itulah saat kita beribadah dan kemudianHanya orang ikhlaslah yang akan mendapatkan surga darinya dan itupun karena kebaikan tuhan ke kita. Sehingga dari sini jelas bahwa ketika kita mengharap atau bahkan yakin bahwa tuhan akan memberikan surganya ke kita saat kita telah melakukan ibadah yang Dia perintahkan, maka sebenarnya kita secara tidak langsung telah mengekerdilkan atau bahkan bertentangan dengan konsep keikhlasan dan qiyamu binafsi yang kita yakini sebagai dasar tauhid kita. 
Selain itu, karena kita beranggapan bahwa ibadah kita ditujukan untuk mendapatkan surganya, maka kemudian kita tidak sedikitpun memikirkan apa yang ada dibalik ibadah yang diperintahkan ke kita. Kita hanya akan berusaha untuk melakukan ibadah dengan sesempurna mungkin agar surganya tuhan tepat jatuh dipelukan kita. Padahal sebenarnya, terdapat nilai-nilai yang diselipkan dibalik ibadah yang diturunkan terun temurun hingga akhirnya sampai di generasi kita tersebut. Hal inilah yang dirasa para cendekiawan muslim dan sebagian ulama, menjadi penyebab dari kemunduran islam. Yaitu hilangnya nilai - nilai islam yang dulu menjadi penggerak atas kemajuan yang dicapai islam. Hilangnya nilai-nilai islam berakibat pada pendangkalan pandangan para muslim atas apa yang mereka peluk.  
Untuk itu perlu dilakukan penghayatan kembali tentang nilai-nilai yang ada dalam islam supaya nantinya nilai-nilai ini dapat dihayati dan diamalkan oleh umat islam. menurut Kupperman mendefinisikan nilai adalah patokan normatif yang memperngaruhi manusia dalam menentukan pilihannya di antara cara-cara tindakan alternatif. Oleh sebab itulah nilai sangatlah penting bagi perkembangan suatu bangsa maupun agama. Islam sendiri merupakan sebuah agama yang sarat akan nilai - nilai yang berguna untuk kehidupan. Namun karena nilai - nilai tersebut telah berkembang menjadi sebuah ritual, maka akhirnya nilai - nilai tersebut tidak dapat dihayati oleh setiap pemeluknya. Menghidupkan kembali nilai-nilai yang terdapat di islam tidak harus meninggalkan ritual - ritual yang terdapat di dalamnya. Karena ritual - ritual tersebut merupakan salah satu cara yang digunakan oleh para pendahulu untuk menyampaikan nilai - nilai yang ada dalam ajaran islam (ali sariati). Namun hendaknya, menghidupkan nilai tersebut harus dilakukan dengan kembali menelaah apa yang terdapat dalam tiap ritual dalam islam dan kemudian dilakukan sebuah proses penghayatan kembali . Sehingga nilai tersebut dapat di amalkan dan menempel kuat dalam benak setiap muslim. 
Kebutuhan akan nilai sebagai sesuatu yang menjadi patokan normatif tindakan manusia memang di sadari oleh setiap individu yang berakal. Namun karena semua praktek keagamaan yang telah berubah menjadi ritual tanpa makna menjadi sebuah permasalahan tersendiri yang harus dihadapi oleh kaum agamawan yang ingin memunculkan kembali nilai tersebut. Oleh sebab itulah perlu kembali dikupas dari bagian yang paling dasar guna memunculkan kembali nilai tersebut. Dalam hal ini, perlu kita pertanyakan kembali tentang Konsep ketuhanan yang kita anut. Karena konsep itulah yang menjadi dasar dari perubahan nilai-nilai islam menjadi ritual. 
Tuhan memang sesuatu yang mutlak keberadaannya. Tidak ada orang didunia yang menyangkal keberadaan dan perannya. Namun nampaknya kepercayaan itu tidak dapat menjawab pertanyaan tentang siapa yang membutuhkan di antara manusia dan tuhan. Apakah tuhan yang membutuhkan kita ataukah kita yang membutuhkannya? Banyak pendekatan yang dilakukan oleh para agamawan untuk menjawab hal ini. Sebagian dari mereka menjawab bahwa kita lah yang membutuhkan tuhan meskipun sebenarnya dalam prilaku mereka (seperti kasus tentang ibadah yang sebelumnya saya jelaskan) jauh berbeda dengan pernyataan mereka. Dan sebagian yang lain beranggapan bahwa tuhan dan kita saling membutuhkan sebagaimana seorang pedagang dan pembeli. 
Jika kita tinjau lebih jauh, sebenarnya manusia adalah makhluk yang membutuhkan tempat bergantung ketika menghadapi sebuah kejadian diluar kemampuannya. Oleh karena itulah mereka sangat membutuhkan Tuhan. Tuhan sebagai sesuatu yang maha segala - galanya menjadi tempat mereka bergantung disaat - saat seperti itu. Tetapi apakah lantas hanya ketika terjadi suatu kejadian diluar kemampuan manusia membutuhkan tuhan? Ternyata tidak, ketika dimasa tenangpun kita harus berpegang padanya. Meskipun dalam prakteknya hal ini jarang terjadi.  Kebutuhan kita pada tuhan saat dikondisi tenang ini dapat kita ketahui dari sifat manusia yang mudah jenuh saat ketika terlalu lama dalam ketenangan dan juga sebagai kosekuensi atas kepercayaannya bahwa dia membutuhkan tuhan disaat menghadapi masalah diluar kemampuannya. Kebutuhan manusia kepada tuhan saat dalam kondisi diluar kemampuannya menunjukkan bahwa manusia memang membutuhkan suatu tempat untuk bersandar dan juga menjadi bukti bahwa manusia memang membutuhkan tuhan. 
Hubungan dari " manusia yang membutuhkan tuhan " dengan nilai adalah dalam proses manusia menjalani hidupnya. Ketika manusia menjalani proses hidupnya, manusia akan cendrung menginginkan sesuatu yang sempurna dan menguntungkan bagi dirinya. Namun karena mereka percaya bahwa sebenarnya ada kekuatan yang lebih tinggi dari dirinya maka mau tidak mau dia harus mengatur hidupnya sesuai dengan apa yang diyakininya. Intinya ketika manusia percaya akan keberadaan tuhan, maka diapun akan percaya tentang sifat-sifat tuhan yang menjadi nilai dari Ketuhanannya. Karena tuhan memiliki nilai - nilai ketuhanan yang harus di amalkan olehnya, Maka akhirnya manusia mencoba dengan sebaik mungkin agar menjadi orang baik yang sesuai dengan apa yang diinginkan tuhan atasnya. Nilai - nilai ketuhanan itulah yang kemudian disusun dan dirangkai menjadi sebuah agama. Menjadi aturan - aturan yang nantinya dapat dipercaya dan diamalkan. Dan kemudian disampaikan secara turun temurun lewat ritual-ritual yang kita jalani. Nilai ketuhanan inilah yang seharusnya kita pegang dan kita jadikan sebagai dasar kita sebagai seorang muslim dalam memperjuangkan kemajuan agama dan bangsa kita. 
( Manusia membutuhkan tuhan dan kepercayaan lahir dari nilai-nilai ketuhanan)


karya lain saya tentang NDP HMI
1. Ikhtiar dan takdir
2. pengertian dasar-dasar kemanusiaan
3. Kedudukan NDP
4. Sejarah perumusan NDP
5. Pengantar NDP HMI dari saya