Ketuhanan yang maha esa dan kemanusiaan


NDP HMI
Berbicara tentang ketuhanan memang sedikit agak sensitif. Banyak orang yang mencoba mengelak untuk membicarkan tentangnya. Bukan karena pengakuan mereka terhadap tuhan yang sudah tidak bisa digugat namun karena memang mereka takut disebut sebagai orang murtad . Seperti itulah fakta yang sering kita temukan di dunia kita ini. Ketakutan yang sangat nampaknya dimiliki oleh seseorang saat diajak berbicara tentang tuhan. Akibat dari ketakutan manusia untuk berbicara mengenai tuhan inilah, yang akhirnya membawa mereka menjadi sangat tertutup dan kaku saat berbicara tentang atau saat mencoba memahami sesuatu yang berkaitan dengan keberadaan Tuhan. Sehingga permasalahan yang berkaitan dengan Tuhan sering berujung pada kekerasan dan bahkan pembantaian. Sebut saja kisah kaum Syiah di sampang, Ahmadiyah dan HKBP di Jawa Barat serta kasus tentang kaum pastun yang disebut oleh dunia sebagai motor penggerak radikalisme Islam.  Kasus-kasus ini hanyalah segelintir dari sekian banyak kasus yang ada di dunia dan menjadi bukti atas kekakuan umat beragama di dunia yang seharusnya dapat kita jadikan sebagai pembelajaran untuk kedepannya. 
Tidak bisa kita pungkiri bahwa seluruh umat beragama mengakui bahwa tuhan yang mereka sembah adalah esa. Sehingga keesaan tuhan ini menjadi sebuah kebenaran yang tanpa adanya kesepakatan sekalipun mutlak dengan sendirinya. Karena memang sifat esa tuhan ini sesuai dengan dasar logika yang dimiliki oleh manusia. Sehingga ketika seseorang berpikir tentang jumlah tuhan, maka jumlah yang paling masuk akal buat mereka adalah esa. Oleh karena itulah ketuhanan yang esa dijadikan sebagai dasar dari negara kita juga.
Ketuhanan yang esa hendaknya benar-benar dihayati dan diyakini agar dapat meresap kedalam jiwa masing-masing pemeluknya. Karena sebenarnya dari sifat yang esa ini lah sebeanarnya aturan tentang kemasyarakatan itu muncul. Logikanya, ketika tuhan benar-benar esa, maka tak satupun makhluk yang akan mampu menjadi tuhan atau bahkan menyerupainya. Meskipun pada hakekatnya, di dalam dirinya terdapat sebagian dari nilai ketuhanan.
Idealnya, tuhan yang esa tersebut memiliki sifat-sifat yang beraneka ragam. Sifat-sifat tersebutlah yang hendaknya membedakan antara dirinya dan makhluknya. Namun dalam perannya, ternyata tuhan menaruh sedikit dari sifat-sifat yang dia miliki kepada makhluknya. Meskipun pada hakekatnya, sifat-sifat itu bersifat semu. Kesemuan sifat tuhan yang di miliki makhluknya tidak berarti bahwa makhluk tuhan tersebut pada hakekatnya adalah tuhan dan yang membedakan hanya sifat yang nyata dan semunya. Namun lebih pada lewat makhluknyalah kita dapat mengenal tuhan dengan lebih baik.
Memang banyak penjelasan yang menerangkan bahwa untuk mengenal tuhan maka kenalilah lewat makhluknya. Hal ini tak lain seperti halnya sebuah sekolah. Ketika saat kita sekolah di jurusan arsitektur, maka untuk mengenali sebuah bangunan yang rumit, kita harus mengenalinya lewat rancangan-rancangan yang masih berupa gambar dari bangunan tersebut. Bahkan terkadang rancangan disain yang dipelajari cendrung terpisah satu sama lainnya antara bagian gedung yang satu dan yang satunya. Seperti itu pulalah saat kita mempelajari tentang tuhan. Bahwa hendaknya kita harus memulainya dari gambaran semu tentang dirinya yang berupa alam semesta baru kemudian kita sedikit demi sedikit akan mengenali keberadaan dari zatnya yang sesungguhnya.
Hubungan antara manusia yang satu dan yang lainnya tak ubahnya sama dengan hubungan antara desain bagian yang satu dan yang lainnya dari sebuah bangunan. Sehingga dalam islam sendiri, jelas diterangkan bahwa manusia yang satu dan yang lainnya adalah sama. Sedang yang membedakannya hanyalah tingkat ketakwaannya. Dari sini jelas bahwa islam benar-benar menjunjung tinggi persamaan drajat dari semua manusia. Bahkan islam sendiri tidak mengenal sistem ras yang pada zaman pertengahan sempat menjadi permasalahan yang mampu membedakan antara orang yang satu dan yang lainnya.
Ketuhanan yang esa merupakan sebuah pondasi dasar yang menjadikan konsep kemanusian dalam islam adalah satu. Yaitu semua manusia adalah berkedudukan sama. Logikanya, karena tuhan yang disembah adalah satu, maka secara tidak langsung, manusia yang menyembah tuhan adalah sama. Yaitu sama-sama menyembah tuhan yang satu tersebut. Karena tuhannya yang satu dan karena tuhannya hanya memiliki satu pandangan tentang kemanusiaan maka manusia yang menyembahnya juga haruslah terdiri dari satu golongan yaitu orang yang menyembahnya tersebut. Oleh karena itulah, konsep kemerdekaan dalam islam didasarkan pada pengakuan terhadap tuhan yang satu ini.
Merdeka bagi islam sungguh berbeda dengan konsep bebas. Meskipun dalam prakteknya, sebagian besar manusia mendefinisikan merdeka dan bebas adalah sama. Dalam islam orang merdeka adalah orang yang bebas dan tidak ada yang membatasinya, namun kebebasannya tersebut memiliki dasar satu yang kuat, yaitu ketuhanan yang esa. Dalam islam seseorang dikatakan merdeka ketika dia telah dengan yakin berikrar dan berjanji untuk mentaati tuhan yang satu (hal ini dapat kita temukan dalam cerita memerdekaan budak zaman rosulullah). Sedangkan bebas berarti bahwa manusia tersebut bebas melakukan apapun tanpa adanya dasar yang melandasi tindakannya tersebut. Dari sini dapat kita ketahui dengan jelas bahwa pada hakekatnya, setiap manusia adalah bebas. Namun tidak semua manusia merdeka sesuai dengan yang disebutkan islam (memiliki dasar/meninggikan orang-orang yang bertakwa). Sehingga, pada dasarnya, islam adalah sebuah agama yang mengakui bahwa manusia adalh makhluk yang bebas. Namun kebebasan tersebut adalah tingkatan yang paling rendah. (manusia sama dihadapan tuhan)
Dari anggapan bahwa semua manusia dianggap sama dihadapan tuhan inilah nantinya konsep tentang kemanusiaan diturunkan oleh orang barat. Yang kemudian digunakan kembali untuk menyerang dan mengkucilkan islam. Padahal sebenarnya, islam jauh lebih dulu mengenal tentang kemanusian katimbang orang barat itu sendiri.

1 comment:

  1. Di era yang semakin liberal meningkatkan sisi kemanusiaan kepada siswa sangat penting, dengan contoh langsung dilapangan untuk menumbuhkan kepedulian

    ReplyDelete